Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2016

Caption Tidak Nyambung

Belakangan ini, saya semakin sering menjumpai foto-foto yang tersebar dengan caption yang tidak nyambung. Tulisannya sama sekali tidak berkaitan dengan gambar. Beberapa kasus memang sengaja dibuat tidak nyambung untuk membuat lucu atau membuat kesan santai. Sebetulnya, ini sah-sah saja. Kecuali, kalau tulisannya sudah sangat panjang tidak karuan. Di Instagram misalnya, untuk menjelaskan satu foto, ada yang sampai ratusan kata. Kalau saya sih malas baca nya. Terlebih kalau tulisan sama gambar tidak nyambung sama sekali. Lebih baik ditulis saja dengan baik di media lain, kemudian dikasih link. Menurut Anda bagaimana?

Meskipun tidak membaca caption nya karena malas. Biasanya saya kasih like untuk usahanya mengetik. Kalau ngetik pake smartphone, pasti leher lumayan pegel juga. He he. Kalau komentarnya isinya orang-orang jualan? Jadi kasihan melihatnya. Tapi, saya ketawain juga. Ha ha ha.

Senin, 22 Februari 2016

Likers asal-asalan

Pengguna media sosial semakin kesini semakin banyak saja. Menurut data yang dirlis We Are Social, pada bulan Januari 2016 pengguna media sosial mencapai 2,307 milyar orang atau sekitar 31% dari penghuni bumi saat ini (saat ini bumi dihuni oleh 7,395 milyar orang). Orang sebanyak itu kalau dikumpulkan di dalam satu bangunan kira-kira bangunannya sebesar apa ya? lalu Bagaimana bentuknya? (jawabannya bisa Anda lihat di sini waitbutwhy.com). Banyak juga ya orang yang tinggal di bumi (sampai-sampai tulisan saya melebar kemana-mana. Hadoh.). Kembali ke masalah pengguna media sosial yang semakin banyak. Sebetulnya saya jadi agak malas menggunakan media sosial. Alasannya karena sudah menjadi mainstream. Kalau sudah mainstream, jadi tidak anti-mainstream lagi hi hi. Tidak, bukan itu alasannya. Fenomena yang sering saya alami adalah likers asal-asalan. Seringkali saya mengunggah tulisan yang cukup panjang (terdiri dari beberapa ratus kata), tapi anehnya baru satu detik sudah ada yang nge-like. Saya tidak tahu kalau manusia bisa membaca secepat itu (jangan-jangan Anda bisa lebih cepat?). Tujuan dari tulisan tersebut diunggah memang untuk mendapat tanggapan, dan tentu saja saya merasa senang kalau tanggapannya positif. Sayangnya, jumlah like yang diberikan terhadap tulisan-tulisan di media sosial tidak lagi bisa dijadikan parameter bahwa pembaca menyukai tulisan saya. Banyak orang yang nge-like hanya untuk meramaikan atau sekedar ikut-ikutan saja. Bagi saya jumlah like tidak masalah, yang penting adalah pesan dari tulisan saya tersampaikan. Tapi kalau tidak ada yang nge-like juga bingung (kemungkinan tidak ada yang suka bahkan tidak ada yang membaca). Akhirnya, saya nge-blog saja lah. Kalau ada pembaca ya bersyukur kalau tidak ya tidak apa-apa (yang penting tanggapannya tidak asal-asalan).

Minggu, 21 Februari 2016

Lebih Memilih Buku Biografi daripada Buku Motivasi

Judulnya mungkin terkesan sentimental bagi sebagian orang (atau tidak juga?). Bukan berarti bahwa buku motivasi jelek. Hanya saja belakangan ini saya baru menyadari kalau buku-buku yang saya miliki sebagian besar adalah biografi. Pada awalnya saya senang membaca buku-buku motivasi. Setiap selesai membaca, saya jadi termotivasi lagi (namanya juga buku motivasi he he). Tapi lama-kelamaan, buku motivasi hanya enak dibaca saja. Isi bukunya tidak selalu relevan dengan kondisi yang dialami. Jadi, lumayan sulit untuk diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Hal yang membuat buku biografi lebih menarik adalah isinya tidak sugestif. Penulis biografi biasanya memang membuatnya sedikit dramatis, tetapi tetap rasional. Proses pencapaian-pencapaian orang dalam biografi tersebut juga tidak instan tetapi melalui proses yang panjang dan melibatkan banyak orang hebat. Menurut saya ini lebih nyata.

[Beberapa buku biografi yang saya temukan di rak buku plus bungkus DVD Detective Conan]



"

    Sabtu, 20 Februari 2016

    Senang Melihat Orang Lain Susah

    Saya sering tertawa puas di atas "penderitaan" orang lain. Bukan hanya saya, mungkin sebagian besar orang juga sering merasa senang saat melihat orang lain sedang susah payah (Bagaimana dengan Anda?). Memang terkesan jahat. Namun bagi saya, tidak semua penderitaan orang lain itu harus diberi empati, sebagian sah-sah saja ditertawakan ha ha. Dalam beberapa kondisi, saya tidak segan melakukannya. Termasuk saat mengawas Try Out SBMPTN yang diselenggarakan Paguyuban Mahasiswa Kab. Bandung ITB (PMKB ITB) beberapa waktu lalu. Ditengah-tengah pengerjaan Saintek (soal-soal yang berisi mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi), saya sempat memperhatikan beberapa ekspresi wajah siswa/siswi SMA peserta TO. Beberapa masih fokus memperhatikan soal, entah bingung mencari jawaban atau bingung memahami soal. Rata-rata yang seperti ini adalah mereka yang duduk di bangku paling depan. Dua tiga orang mulai menggaruk-garuk kepala. Kalau yang ini, memang wajar sekali dilakukan. Saya sendiri sering melakukannya ketika sudah mentok berpikir. Beberapa mulai gelisah melirik-lirik samping kiri dan kanan bahkan ada juga yang mencuri-curi kesempatan dari saya untuk menengok ke belakang. Lucu saja melihatnya. Satu dua kali saya biarkan karena yang belakang pun sepertinya lebih kebingungan. Kemudian saya tegur dengan sedikit candaan. Sepertinya cukup ampuh kalau melihat respon mereka yang langsung kembali fokus ke lembar jawaban masing-masing.

    [Ini foto yang diambil saat mengerjakan Saintek]
    Saya tidak sedang mempersoalkan perilaku mereka. Tapi tertawa di atas "penderitaan" orang lain itu memang nikmat. Tentu saja ada batasan penderitaan yang tidak boleh kita tertawakan. Misalnya, saat ada orang yang rumahnya kebakaran (Kalau ditertawakan bisa dipukuli orang). Tapi untuk kasus saya ini sah-sah saja bukan? (Atau tetap jahat juga?).